Rabu, 01 Juni 2016

The End oN a dine

     Pada suatu hari hiduplah seorang anak yang bernama Dharma disuatu desa yang bernama desa DEN yang masyarakatnya bisa dibilang cukup ramah dan mudah besosialisasi. Dharma selama masa hidupnya selalu menghabiskan waktunya belajar disekolah dan membantu keluarganya turun ke sawah untuk mencari nafkah.

      Disuatu pagi ketika Dharma mau berangkat ke sekolah, tiba-tiba seseorang memberi kabar bahwa ibu Dharma yang pergi merantau telah meninggal dunia karena sakit. Setiap harinya Dharma selalu terpukul karena merasa tidak punya siapa-siapa lagi yang bisa diandalkan, sementara bapak Dharma yang seharusnya bisa menuntun Dharma malah pergi meninggalkan Dharma ketika berusia 2 tahun.

      Waktu terus berlalu seiring perkembangan jaman, Dharma kini sudah duduk di bangku SMA dan tidak lama lagi akan mengikuti Ujian Akhir Nasional, segala persiapan telah dipersiapkan dengan baik. 4 bulan sebelum ujian tiba, Dharma diajak temannya untuk mengikuti suatu perlombaan musik. Karena Dharma sangat mengemari musik dan tertarik dengan ajakan teman-temannya itu maka Dharma lebih memilih latihan dibanding les ke sekolah.

      Disore hari ketika Dharma memulai latihan bersama teman-teman grupnya, diam-diam Dharma mengagumi salah satu teman grupnya yang bernama Apriceline yang lasim disapa April, dan ketika menjelang malam tiba April masih membereskan gitarnya di tempat latihan, tiba-tiba Dharma menghampirinnya dan berkata...
"April, boleh ngak aku ngomong sebentar ajah sama kamu" tanya Dharma dengan bibir tersenyum
"boleh" jawab April dengan suara datar
"tapi bereskan dululah gitar kamu itu" kata Dharma dengan penuh kepedulian.
Setelah April selesai membereskan gitarnya, tiba-tiba dia berlari dan berkata "besok ajah yah ceritannya" sambil berlari meninggalkan Dharma.

      Dihari latihan berikutnya Dharma duduk termenung di emper tempat latihan, tiba-tiba April datang dan berkata...
"Dharma memangnya kemarin kamu mau cerita apa..?" tanya April sambil duduk disamping Dharma
"aku lupa tentang hal kemarin dan aku malas untuk membahasnya lagi" jawab Dharma dengan muka yang sedikit kesal
"aku minta maaf yah, kemarin aku harus cepat-cepat pulang kata bundaku" jawab April dengan wajah yang sedikit cemberut
"owh begitu, owh iya aku suka sama kamu loh" kata Dharma dengan tegas sambil menatap wajah April
"apa-apaan kamu, kita kan belum lama kenal, kamu belum tau siapa aku dan aku belum tau siapa kamu" jawab April dengan sedikit heran
"Tidak, aku bilang aku suka kamu, mau kah kamu menjadi salah satu bagian dihidupku" teriak Dharma ke langit yang lepas
"maaf, kayaknya tidak sekarang yah jawabannya" jawab April sambil perlahan-lahan berdiri dan meninggalkan Dharma.

      Dharma-pun terdiam dan berfikir apakah benar cara yang telah dilakukannya untuk mengungkapkan perasaanya ke April.
Sesaaat berlalu, tiba-tiba April teriak dari dalam tempat latihan "Dharma aku juga suka sama kamu, aku mau menjadi salah satu bagian dihidupmu"
Dharma-pun berlari dan langsung menemui April dan memeluk April di depan teman-temannya.

      Hari terus berlalu, Dharma mengenalkan April pada keluargannya begitupun sebaliknya. Dharma selalu mengajak April agar menemani Dharma saat Dharma turun ke sawah. Setelah Dharma selesai bekerja, Dharma juga tak lupa mengajak April untuk bermain lumpur, sehabis bermain lumpur cukup lama dan ketika mereka sudah berlumuran lumpur Dharma-pun berkata "sayang, sekarang itu kamu tak lagi berkulit putih melainkan cokelat" tanya Dharma sambil tersenyum berhadapan dengan April
"itu karena maumu & mauku juga" jawab April dengan senyum manisnya.
"kamu itu bagusnya dipanggil cokelat, ya April cokelat" kata Dharma sambil mengeluarkan lidahnya bermaksud mengejek.
April-pun sering dipanggil teman-temannya April Cokelat.

      Waktu begitu singkat berlalu, dan disaat itu Dharma sementara mengikuti UAN, hari demi hari berlalu, Dharma-pun telah dinyatakan lulus. Dharma memilih melanjutkan pendidikannya ke tempat yang jauh dimana dia harus meninggalkan kekasihnya. Sesaat sebelum kepergiannya, Dharma sempat bertemu dengan April
"sayangku cokelat, sebentar lagi aku akan pergi menuntut ilmu ke tempat yang jauh dan lama akan kembali, aku harap kamu mampu menjaga perasaanmu, aku juga akan jaga perasaanku ke kamu" kata Dharma sambil menatap wajah April dengan muka yang pasrah. April tak mampu menjawab, April terus menagis sampai Dharma berangkat.

       Hari demi hari, bulan demi bulan bahkan tahun demi tahun berlalu, Dharma terus memikirkan kekasihnya April, namun Dharma selalu besabar menahan kerinduannya itu karena tinggal menghitung hari Dharma menyelesaikan pendidikannya dan pulang ke desa Den menunggu kekasihnnya April yang saat itu juga sedang dalam perguruan tinggi.

      Tibalah saatnya mereka bertemu lagi, Dharma menyiapakan sepeda ontel-ontelnya untuk menjemput kekasihnya di perwakilan bus, tak lamapun April nampak turun dari bus, Dharma-pun tersenyum menghampiri April namun tiba-tiba datang sosok lelaki mengunakan pakaian rapi dan mengunakan mobil yang mewah yang kemudian menjemput April. Dharma pun merasa sedih dan pasrah akan keadaan, Dharma hanya mampu menatapi mobil itu meninggalkannya.
Dharma-pun pulang kerumah dan bertanya kepada keluargannya...
"selama aku pergi, apakah April tak lagi menginjakan kakinnya ke tempat ini" dengan mata yang berkaca-kaca
"Dya memang tak pernah lagi datang setelah beberapa saat kamu pergi" jawab ibu angkat Dharma sambil melipat baju
"ya sudahlah bu', aku mau tidur duluan" jawab Dharma meninggalkan ibunya dan segera masuk kamar.

    Keesokan harinya Dharma mengunjungi rumah April dengan sepeda ontel-ontelnya, sesampai di depan rumah April, Dharma melihat laki-laki yang menjemput April kemarin sedang duduk di emper rumah April. Dharma-pun masuk ke pagar rumah April, laki-laki yang menjemput April kemarin tiba-tiba berkata...
"Bunda, ada penagih surat kabar datang" sambil teriak..
"Maaf mas, aku ini pacarnya non April" jawab Dharma ke laki-laki yang di anggap sepupunya April itu
"hahahaha,,, aku Rangga tunangannya April" jawab Rangga dengan wajah yang menantang
"Apa aku boleh ketemu April" tanya Dharma sambil mendorong sepedenya ke dalam halaman rumah April.
Tidak lama kemudian keluarlah Ibu April..
"ada apa sih, ada apa sih, kok ribut-ribut...?" kata ibu April yang sedang keluar dari pintu
"ini bunda, penagih surat kabar bulanan katannya pacar April,, mimpi kali ye" kata Rangga sambil menunjuk Dharma.

      Ibu April-pun kaget dan berlari masuk menemui April..
"Ap,, Ap,, April Dharma datang, dia sudah kembali rupannya" kata ibu April dengan nada tergesah-gesah..
April-pun berlari keluar menatapi Dharma dan berkata..
"apakah itu kamu Dharma, mengapa kamu datang disaat seperti ini..?"
"Hey tunggu dulu, siapa sih dia sebenarnya.?" tanya Rangga sambil menarik tangan April.
"Jujur ajah Nga,, dya ini pacar aku" jawab April
"apa..?? ngak mungkin bangat,, aku ngak percaya kamu mau sama penjual koran seperti ini" jawab Rangga dengan wajah yang marah dan kecewa
"kamu jangan asal bicara yah, dya itu lebih berharga dibanding segalanya yang aku miliki" bentak April
"lalu aku ini kamu anggap apa.?" tanya Rangga memegang kuat tangan April
"Kamu itu tidak lebih dari baby doll yang kamu kasih ke aku" bentak April lagi
"sialan" sambil menampar pipi April
"jangan bilang kamu laki-laki kalau tidak melawanku" kata Dharma menghampiri Rangga
"sialan kamu" kata Rangga sambil mengarahkan pukulannya ke Dharma
"tidak semudah itu kamu orang kota bisa mengalahkan orang sawahan seperti saya" kata Dharma sambil menangkis pukulan Rangga..
"Sudah, siapa sih kamu Rangga pukulin anak saya,, lebih baik kamu pulang sebelum aku panggil bapaknya April pulang" teriak ibu April

      Tak lama kemudian Dharma dan Rangga terdiam, April menangis dengan keadaan saat itu, tiba-tiba Ibu April berkata "Rangga kenapa kamu masih tinggal, April kamu masuk rumah siapkan barang-barangmu, kamu minggu depan keluar kota dan memulai kehidupan yang baru bersama Dharma" sambil masuk pintu rumah meninggalkan Dharma, April dan Rangga.
"oke aku akan pulang, tapi ingat bukan hanya kamu pacarku, banyak wanita lain di dunia ini" kata Alfred sambil menendang sepeda ontel-ontel Dharma dan masuk ke dalam pintu mobilnya
"dasar ngak tau malu, mobilmu hanya mobil pinjaman tidak lebih dari sepeda ontel-ontel milik pacarku" teriak April ke arah Rangga.

      Seperti kata ibu April, Dharma dan April berangkat ke luar kota setelah keduannya mendapat restu. Disana mereka mengikat diri jadi satu dalam iman, satu dalam kepercayaan, dan satu dalam hubungan yang disebut pernikahan suci. Mereka membangun rumah tangga yang harmoni dan di segani banyak orang.


------------------------------------------THE END ON A DINE-----------------------------------------